Tuesday, 9 July 2013

Menyesal? Sedikit

anastasia cynthia's diary

"Tidak bisa kalau seperti ini. Coba saja dilihat,soal ini udah pasti ngga nyambung" sembur lelaki paruh baya itu sambil tertawa. Plat perak mengilap bertuliskan rektor bergerak gerak di jas lusuhnya. Anak perempuan dihadapannya diam saja menelan ludah. Mata anak itu melekat pada sepatunya.
  "Tapi pak, bukannya saya membela anak saya. Tapi ini bukan murni kesalahan anak saya. Ini juga kesalah dari pihak percetakan dan universitas ini. Bahkan kata bapak ada tiga tempat yang mengalami hal seperti anak saya."
   "Ya memang, saya sebagai wakil rektor mengakui ada kesalahan di tiga tempat. Tetapi anak anak yang mendapat soal salah sudah diberi perpanjangan waktu" balas lelaki itu. Wajahnya tetap berusaha tenang dan bersahaja. Namun tampak memuakkan.
   "Tapi anak saya tidak diberi kelonggaran. Bahkan baru hari kedua dia diberitahu bahwa ada kesalah soal di hari pertama"
  Anak perempuan itu mendesah berat. Ia sudah menutup kupingnya rapat2 dan menelan amarahnya diantara sekat tenggorokan. Percuma saja duduk di sini,tidak akan menghasilkan apapun, batin anak itu.
                            ****

"Aku takut masuk atmajaya. Di situ banyak cicik ciciknya ya?" Seorang anak bermata bulat coklat melemparkan pandangan pada lelaki kurus di sampingnya. "Ngga tau,memangnya aku sekolah di atma." Jawab anak itu acuh tak acuh.
Perempuan dengan rambut berombak dan wajah bulat itu hanya menunduk. Pikirannya keruh. Suatu ketakutan bersarang di pikirannya. Benih benih keresahan juga sudah tertanam di relung hatinya.
   "Sudahlah sekarang belajar saja. Tidak usah memikirkan hal sepele seperti itu." Kata lelaki kurus itu seakan membaca pikirannya.
   "Aku merasa ngga termotivasi nih. Bahkan mario teguh aja ngga bisa. Gimana yaa, ngga ada keadaan yang memaksa aku buat belajar lebih keras. Aku udh kagol berat gara2 SNMPTN itu,"keluh perempuan itu.
      "Katanya pengen mamamu bangga?"
Perempuan itu hanya mengendikkan bahunya. Keadaannya dan mamanya dulu tidak sebaik sekarang. Naif sekali pikiranku,batin anak perempuan itu, hanya karena keluargaku sedikit lebih baik sekarang aku jadi terlena.
                           ****
Anak perempuan itu merebahkan tubuhnya di kasur. Sudah dua hari lalu ia menjalani ujian SBMPTN yang sangat berat. Terutama dengan hati gelisah. Berbagai pikiran negatif terus menyuarak dari otaknya. Ia mengaktifkan twitternya dan sekedar melihat lihat timeline. Seperti biasa ia melakukan rutinitas kepo ke akun sahabatnya. Tetapi ia menemukan sesuatu yang mengejutkan. 'Ngga tau, aku cuma lihat dari kunci jawabannya ssc' balas tweet sahabatnya ke seorang teman.
     Panik. Hanya itu satu kata yang dapat menggambarkan situasinya saat ini. Ia segera mengecek akun SSC dan melihat kunci2 jawaban SBMPTN.
    'Kunci TKUD kode 322,422,122 sudah bisa di cek' begitu bunyi salah satu tweet. Perempuan itu bangkit dan mengambil soal TKUD SBMPTNnya kemarin. Terkejutlah ia bahwa soal matematikanya berkode 222, sedangkan soal bahasa indonesia sampai bahas inggris berkode 322.
     Memang pada saat hari kedua ujian ia ingat betul pengawas ujian mengatakan ada soal yg salah hari pertama, jadi diharapkan lebih teliti pada soal hr kedua ini.
     Hatinya bergejolak, kepanikannya memuncak. Ia berlari mengambil telepon rumah,memencet deretan angka dan seketika itu juga ia berkata dengan suara getir," Ma tolong,soalku SBMPTN rusak."
                            ****

Sudah beberapa hari lamanya, bahkan setelah ia mencoba mencari solusi dengan panlok ujiannya, di rektorat UNY, ia tidak mendapat hasil. Anak perempuan itu menghela napas, merasa semuanya sudah sia-sia. Ia mengaktifkan blogger di handphonenya dan mulai menulis kisah penyesalannya.

                       **SELESAI***

anastasia cynthia's diary / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Distributed By Blogger Template