Saturday, 19 December 2015

Bunga Dimabuk Cinta





“Jika kau mencari orang dengan hubungan tanpa komitmen, maka kau bicara dengan orang yang tepat,” kataku sombong sambil tersenyum meyakinkan. “Oh benarkah? Kukira hanya aku yang berpikir seperti ini..” gumamnya mengerti.
“Tidak juga. Aku telah mengamatimu lebih dari setahun dan kurasa aku mengerti apa yang kau butuhkan.”
Ia hanya tertawa, terdengar seperti bunyi dengungan,” Well, welcome my lady.”
Lalu aku jatuh ke dalam perasaanku sendiri.

***

Aku Bunga, bagian dari sebuah pohon Kehidupan yang mekar setiap musim semi. Akulah mahkota keindahan pohon ini. Sebenarnya aku tidak dapat menyatakan “Akulah”, sebab pohon ini memeliki banyak bunga yang sama indahnya denganku, bahkan beberapa ada yang lebih indah. Baiklah, sangat indah.
Lalu ia datang pada kehidupanku. Tidak, lebih tepatnya aku menariknya dalam kehidupanku. Dia adalah Lebah, yang mampir setiap musim semi untuk menghisap madu dan menebarkan serbuk bunga dari pohon Kehidupan.
Ia tak pernah datang padaku sebelumnya, sebab aku telah memiliki lebah lain yang terbiasa menghisap maduku sehingga ia takkan melirikku. Namun, aku bertengkar dengan lebah itu dan ia memutuskan tidak lagi mengambil sari madu dariku. Ketika itulah aku mulai melihatnya. Lebah milik bunga lain. Sebenarnya bukan milik satu bunga saja, ia selalu datang pada beberapa bunga, yang madunya paling manis aku kira.
Suatu ketika Ia tersenyum dan mendatangiku dan kami bercakap-cakap hingga matahari setinggi pucuk daun pohon ini. Aku memberitahunya bahwa lebah yang biasa datang kepadaku kini tak pernah kembali. Ia sedikit terkejut kemudian menghiburku.
Kemudian aku hanyut dalam kedekatan diantara kami. Kami telah berjanji untuk tidak membuat janji. Sebuah janji yang aneh, namun memiliki seribu pasal dan ayat didalamnya. Kami tidak bisa begitu saja muncul bersama, berdekatan, dan saling bersentuhan. Di kala bulan mulai tampak, aku menarik Lebah dalam pelukanku. Aku memberikan apa saja untuknya, sari maduku, kelopak bunga dan daunku. Aku memberikan apa saja dari tubuh Bungaku, bahkan jika ia meminta, aku, akan memutus tangkai bungaku dan memberikan padanya.
Aku benar-benar mabuk oleh cintanya. Oleh seekor Lebah yang baru dekat dengan hidupku, 10 hari lamanya.

***

Perasaan yang salah ini mulai muncul. Aku tahu sangat jelas, bahwa aku yang melanggar perjanjian yang kami buat dahulu. Lebah tidak bisa berkomitmen padaku.  Aku marah padanya bahwa ia sangat sulit dihubungi ketika aku memintanya datang, ia balik membalas dengan gusar,” aku sedang sibuk sekarang, jika kau tidak bisa bersamaku, tinggalkanlah aku.”
“Kenapa kau begitu mudah mengatakannya?” tanyaku sedih.
“Karena aku tidak mau merubah diriku pada siapapun. Aku sibuk sekarang, kau tidak bisa menghubungiku 24jam penuh, aku punya pekerjaan dan keluarga besar orang tuaku yang selalu menungguku.”
“Aku selalu menaruhmu di atas segala prioritasku..”
“Aku memang seperti ini. Tidak bisa dihubungi terus-menerus. Pekerjaan dan keluarga adalah prioritasku. ”
Senyap. Diantara kami tidak ada yang melanjutkan percakapan ini. Lebah meninggalkanku dan mengatakan akan menemuiku secepatnya. Namun aku tidak yakin dengan janji yang dikatakannya. Sebab tidak ada janji dalam perjanjian yang kami buat.
Aku sungguh tenggelam dalam perjanjian yang salah. Kini aku merasa sengsara.

***

Menunggu adalah hal yang paling menyiksa bagi orang tidak sabaran. Aku menunggu sang Lebah. Aku ingin membuktikan bahwa perkiraanku salah, bahwa ia membutuhkanku sehingga cepat atau lambat ia pasti datang padaku.
Namun, aku kembali membuat kesalahan. Aku selalu menghubunginya lebih dulu. Aku tak bisa membuktikan perkiraanku dan mulai membuat persangkaan sendiri. Aku merasa ia telah melupakanku jika aku tidak menghubunginya sehari pun.
“Aku tidak bisa menghubungimu terus-menerus, Bunga. Bukankah kau bilang  pula di awal perjanjian kita, aku tidak perlu menghubungimu 24 jam penuh?”
Aku tersedak dari dalam. Aku adalah pelanggar janji terbaik. Aku sadar betul aku membuat janji seperti itu dengannya dan hanya menuntut perhatian Lebah ketika kami benar-benar bertemu. Namun riak dalam hatiku terus bergema bahwa ia tidak mencintaiku.
“Aku tidak bisa bersamamu terus-menerus. Jika kau ingin bersamaku, ikuti aku, ikuti aturanku. Aku tidak mau merubah apapun dari diriku. Aku belum siap,” tegasnya.
Aku membisu. Aku tidak mengerti apalagi yang harus kukatakan ketika ia marah.
“Aku membutuhkanmu. Poin selesai,” katanya memutus pembicaraan.
Wajahku memerah, emosiku memuncak, dan berkata, “ Katamu kau membutuhkanku, tapi kau bilang aku harus mengikuti aturanmu! Katamu kau membutuhkanku, tetapi dengan mudahnya kau mengatakan ‘Aku sibuk jika kau tidak bisa bersamaku, tinggalkanlah aku’! ”
Lebah merengut kesal. Sebelum dia menjawab aku telah memotongnya dengan berkata, “Sudahlah, aku lelah menunggumu punya waktu untukku. Kita selesai sampai disini.”
“Yasudah..”
Kami pun dirundung kegelapan. Tidak, lebih tepatnya aku. Sesuatu dalam diriku remuk karena harapan yang membumbung terlalu tinggi.

***

Ketika sebuah makhluk berkata kasar, menyakitkan, dan dirundung amarah , apapun itu, didalamnya tidak ada rasa benci yang serius untuk mengakhiri suatu hubungan. Ia tidak dapat berpikir jernih.
Lebah itu tanpa noda. Ia bersikap sangat objektif sesuai dengan perjanjian yang mereka buat dahulu. Harapan Bungalah yang membumbung setinggi langit dan menghempaskannya pada Lebah. Bunga membuat janji di luar batas psikologisnya, ia tidak siap bermain dengan perasaan. Tanpa disadari, ia kehilangan lebih sebelum ia memulai hubungan dengan Lebah. Bunga tak bisa lagi bicara dengan Lebah ketika ia hinggap di bunga lain, rasa malu terus membelenggunya.


FOOLS
Troye Sivan
I am tired of this place, i hope people change
I need time to replace  what i gave away
And my hopes, they are high, i must keep them small
Though I try to resist, I still want it all

I see swimming pools and living rooms and aeroplanes
I see a little house on the hill and children’s name
I see quiet nights poured over ice and Tanqueray
But everyhthing is shattering and it’s my mistake

Only fools fall for you, only fools
Only fools do what i do, only fools fall
Only fools fall for you, only fools
Only fools do what i do, only fools fall




Friday, 8 May 2015

Ketika Cinta Tidaklah Buta

Denyut nadi
Jantung ini berdetak, sangat hebat. Bibirmu menyentuh ujung bibirku dengan lembut dan menepuk kepalaku perlahan. Sambil tersenyum dia menggandeng tanganku dan melangkah dalam kegelapan.
“Tenang saja aku disini, aku tidak akan hilang selama bunyi jantungku terdengar”
"Apakah kau merasakan hal yang sama?” tanyaku lirih, seakan aku tak layak untuk menanyakan hal tersebut. Lelaki itu terdiam, lalu menjawab,”Mungkin iya.”
Aku tersenyum, semburat garis lengkung terukir di bibirku. Aku tak kuasa menyangkalnya, bahwa jantung kami berdetak dengan irima yang sama. Dalam hati aku bertanya,”Mungkin iya?”
***
Dunia kami terhubung oleh irama jantung yang sama, detak nadi yang paling kuat. Sebuah keluarga terhubung oleh denyut nadi yang singkat dengan irama langkah kaki yang santai, sedangkan pasangan lelaki dan perempuan dihubungkan oleh denyut nadi dengan irama meletup-letup. Ketika mereka saling bertemu, denyut nadi mereka akan seirama lalu berdetak semakin keras.Jika bertemu seseorang dan jantungmu tidak berdegup berarti kalian tidak memiliki hubungan apapun.
Jantung ini berdetak, tanpa kehendak kami. Merekalah yang menentukan kepada siapa kami saling berbagi kasih. Otak kami menumpul sebab kami hanya berpegang teguh pada perasaan yang tumbuh merayap di relung hati ini.
Kemudian jantungku berdegup sangat kencang. Kepada orang yang baru saja kutemui beberapa hari yang lalu. Hampir dua minggu kami bertemu dan jantung ini seenaknya berdegup. Hanya orang dengan bunyi nadi yang sama yang dapat mendengar gemuruh jantung ini. Terlebih sialnya jatuh kepada pria ini, yang baru beberapa kali kutemui, yang baru saja kehilangan degup jantung lamanya, yang saat ini menatapku dan berkata, “Halo, kali ini kita bertemu kembali. Ada apa ya sebenarnya?”
Aku meleleh. Duniaku meredup. Aku tak kuasa menahan kesadaranku sebab perasaan pria ini sangat hangat hingga aku ingin menitikkan air mata.
***
Hari-hari kami berlalu sangat indah. Tidak ada yang bisa mengalahkan degup jantung kami yang kencang. Kami adalah satu jiwa yang tak terpisahkan. Aku terhipnotis olehnya, aku tak bisa kembali dalam duniaku yang dulu. Pria ini begitu hebat, dia menghempaskanku ke dunianya sangat dalam. Dia adalah heroinku, yang membuatku kecanduan setiap saat.
Pada pertemuan setahun berikutnya, jantung kami mulai melemah. Aku bertanya-tanya dalam hati,”Mengapa bisa begini? Apa yang salah dariku?” Aku masih mencintainya namun degup jantung kami perlahan tak seirama. Jantungnya berdegup sangat kencang, kemudian meredup ketika aku datang menemuinya. Telingaku mulai tuli. Suara detak nadinya perlahan menjadi sayup-sayup sendu.
“Di sini gelap, aku tak bisa mendengar detak jantungmu,”kataku perlahan. Hening, tidak ada jawaban. Aku menjadi tuli sekarang. Kupukul kepalaku ke tanah, lagi dan lagi. Tolonglah, aku memohon, kembalilah berdenyut seperti sedia kala.
Tidak ada jantung yang berdetak.
Aku mati, tidak ada yang tersisa. Hanya butiran air yang terus bergulir dari ujung mataku.
***
Aku tidak mati hanya saja aku lelah berdetak kembali. Aku tidak ingin perempuan ini disia-siakan lelaki semacam itu. Seharusnya kau dapat menggunakan telingamu lebih baik lagi, Nak. Lelaki itu tidak mempunyai degup jantung yang sama denganmu, hanya sangat mirip. Apa kau tidak ingat setiap kali bertemu denganmu denyut nadinya melemah, lalu naik turun secara acak? Apa kau terlalu buta untuk melihat ujung matanya bahwa bukan dirimu yang ia lihat melainkan wanita lain. Ia sedang memperhatikan seorang gadis rambut panjang dengan mata sipit yang indah, duduk termenung di ujung taman.
Aku ingin memaki-maki atas kebodohan yang kau perbuat. Aku berusaha mengetuk Si Otak, namun ia masih tertidur. Tidur yang paling lama yang pernah kulihat.
Aku menangis. Aku tidak kuasa melihat lelaki itu menipu dirimu dengan degup jantung imitasinya. Seharusnya kau sadar bahwa kau hanya vena kecil yang tak berarti, bukan arteri yang membawa kesegaran dalam hidupnya. Aku begitu marah sehingga aku memutuskan untuk menghentikan detak jantungmu saat ini.Persetan dengan tangismu! Aku akan membawamu pada denyut nadi yang sebenarnya, yang mengasihimu lebih dari apa pun, yang akan berdenyut semakin keras ketika kau datang dengan ceria dan memeluknya, yang akan  berdegup sepanjang masa dan tak pernah berhenti.

Aku si jantung. Aku tidak buta. Perasaan ini dapat melihatnya. Bahkan, walau logikaku terkubur dalam-dalam.