Showing posts with label cerpen cinta. Show all posts
Showing posts with label cerpen cinta. Show all posts

Saturday, 19 December 2015

Bunga Dimabuk Cinta

Cynthia's Blog




“Jika kau mencari orang dengan hubungan tanpa komitmen, maka kau bicara dengan orang yang tepat,” kataku sombong sambil tersenyum meyakinkan. “Oh benarkah? Kukira hanya aku yang berpikir seperti ini..” gumamnya mengerti.
“Tidak juga. Aku telah mengamatimu lebih dari setahun dan kurasa aku mengerti apa yang kau butuhkan.”
Ia hanya tertawa, terdengar seperti bunyi dengungan,” Well, welcome my lady.”
Lalu aku jatuh ke dalam perasaanku sendiri.

***

Aku Bunga, bagian dari sebuah pohon Kehidupan yang mekar setiap musim semi. Akulah mahkota keindahan pohon ini. Sebenarnya aku tidak dapat menyatakan “Akulah”, sebab pohon ini memeliki banyak bunga yang sama indahnya denganku, bahkan beberapa ada yang lebih indah. Baiklah, sangat indah.
Lalu ia datang pada kehidupanku. Tidak, lebih tepatnya aku menariknya dalam kehidupanku. Dia adalah Lebah, yang mampir setiap musim semi untuk menghisap madu dan menebarkan serbuk bunga dari pohon Kehidupan.
Ia tak pernah datang padaku sebelumnya, sebab aku telah memiliki lebah lain yang terbiasa menghisap maduku sehingga ia takkan melirikku. Namun, aku bertengkar dengan lebah itu dan ia memutuskan tidak lagi mengambil sari madu dariku. Ketika itulah aku mulai melihatnya. Lebah milik bunga lain. Sebenarnya bukan milik satu bunga saja, ia selalu datang pada beberapa bunga, yang madunya paling manis aku kira.
Suatu ketika Ia tersenyum dan mendatangiku dan kami bercakap-cakap hingga matahari setinggi pucuk daun pohon ini. Aku memberitahunya bahwa lebah yang biasa datang kepadaku kini tak pernah kembali. Ia sedikit terkejut kemudian menghiburku.
Kemudian aku hanyut dalam kedekatan diantara kami. Kami telah berjanji untuk tidak membuat janji. Sebuah janji yang aneh, namun memiliki seribu pasal dan ayat didalamnya. Kami tidak bisa begitu saja muncul bersama, berdekatan, dan saling bersentuhan. Di kala bulan mulai tampak, aku menarik Lebah dalam pelukanku. Aku memberikan apa saja untuknya, sari maduku, kelopak bunga dan daunku. Aku memberikan apa saja dari tubuh Bungaku, bahkan jika ia meminta, aku, akan memutus tangkai bungaku dan memberikan padanya.
Aku benar-benar mabuk oleh cintanya. Oleh seekor Lebah yang baru dekat dengan hidupku, 10 hari lamanya.

***

Perasaan yang salah ini mulai muncul. Aku tahu sangat jelas, bahwa aku yang melanggar perjanjian yang kami buat dahulu. Lebah tidak bisa berkomitmen padaku.  Aku marah padanya bahwa ia sangat sulit dihubungi ketika aku memintanya datang, ia balik membalas dengan gusar,” aku sedang sibuk sekarang, jika kau tidak bisa bersamaku, tinggalkanlah aku.”
“Kenapa kau begitu mudah mengatakannya?” tanyaku sedih.
“Karena aku tidak mau merubah diriku pada siapapun. Aku sibuk sekarang, kau tidak bisa menghubungiku 24jam penuh, aku punya pekerjaan dan keluarga besar orang tuaku yang selalu menungguku.”
“Aku selalu menaruhmu di atas segala prioritasku..”
“Aku memang seperti ini. Tidak bisa dihubungi terus-menerus. Pekerjaan dan keluarga adalah prioritasku. ”
Senyap. Diantara kami tidak ada yang melanjutkan percakapan ini. Lebah meninggalkanku dan mengatakan akan menemuiku secepatnya. Namun aku tidak yakin dengan janji yang dikatakannya. Sebab tidak ada janji dalam perjanjian yang kami buat.
Aku sungguh tenggelam dalam perjanjian yang salah. Kini aku merasa sengsara.

***

Menunggu adalah hal yang paling menyiksa bagi orang tidak sabaran. Aku menunggu sang Lebah. Aku ingin membuktikan bahwa perkiraanku salah, bahwa ia membutuhkanku sehingga cepat atau lambat ia pasti datang padaku.
Namun, aku kembali membuat kesalahan. Aku selalu menghubunginya lebih dulu. Aku tak bisa membuktikan perkiraanku dan mulai membuat persangkaan sendiri. Aku merasa ia telah melupakanku jika aku tidak menghubunginya sehari pun.
“Aku tidak bisa menghubungimu terus-menerus, Bunga. Bukankah kau bilang  pula di awal perjanjian kita, aku tidak perlu menghubungimu 24 jam penuh?”
Aku tersedak dari dalam. Aku adalah pelanggar janji terbaik. Aku sadar betul aku membuat janji seperti itu dengannya dan hanya menuntut perhatian Lebah ketika kami benar-benar bertemu. Namun riak dalam hatiku terus bergema bahwa ia tidak mencintaiku.
“Aku tidak bisa bersamamu terus-menerus. Jika kau ingin bersamaku, ikuti aku, ikuti aturanku. Aku tidak mau merubah apapun dari diriku. Aku belum siap,” tegasnya.
Aku membisu. Aku tidak mengerti apalagi yang harus kukatakan ketika ia marah.
“Aku membutuhkanmu. Poin selesai,” katanya memutus pembicaraan.
Wajahku memerah, emosiku memuncak, dan berkata, “ Katamu kau membutuhkanku, tapi kau bilang aku harus mengikuti aturanmu! Katamu kau membutuhkanku, tetapi dengan mudahnya kau mengatakan ‘Aku sibuk jika kau tidak bisa bersamaku, tinggalkanlah aku’! ”
Lebah merengut kesal. Sebelum dia menjawab aku telah memotongnya dengan berkata, “Sudahlah, aku lelah menunggumu punya waktu untukku. Kita selesai sampai disini.”
“Yasudah..”
Kami pun dirundung kegelapan. Tidak, lebih tepatnya aku. Sesuatu dalam diriku remuk karena harapan yang membumbung terlalu tinggi.

***

Ketika sebuah makhluk berkata kasar, menyakitkan, dan dirundung amarah , apapun itu, didalamnya tidak ada rasa benci yang serius untuk mengakhiri suatu hubungan. Ia tidak dapat berpikir jernih.
Lebah itu tanpa noda. Ia bersikap sangat objektif sesuai dengan perjanjian yang mereka buat dahulu. Harapan Bungalah yang membumbung setinggi langit dan menghempaskannya pada Lebah. Bunga membuat janji di luar batas psikologisnya, ia tidak siap bermain dengan perasaan. Tanpa disadari, ia kehilangan lebih sebelum ia memulai hubungan dengan Lebah. Bunga tak bisa lagi bicara dengan Lebah ketika ia hinggap di bunga lain, rasa malu terus membelenggunya.


FOOLS
Troye Sivan
I am tired of this place, i hope people change
I need time to replace  what i gave away
And my hopes, they are high, i must keep them small
Though I try to resist, I still want it all

I see swimming pools and living rooms and aeroplanes
I see a little house on the hill and children’s name
I see quiet nights poured over ice and Tanqueray
But everyhthing is shattering and it’s my mistake

Only fools fall for you, only fools
Only fools do what i do, only fools fall
Only fools fall for you, only fools
Only fools do what i do, only fools fall




Friday, 8 May 2015

Ketika Cinta Tidaklah Buta

Cynthia's Blog
Denyut nadi
Jantung ini berdetak, sangat hebat. Bibirmu menyentuh ujung bibirku dengan lembut dan menepuk kepalaku perlahan. Sambil tersenyum dia menggandeng tanganku dan melangkah dalam kegelapan.
“Tenang saja aku disini, aku tidak akan hilang selama bunyi jantungku terdengar”
"Apakah kau merasakan hal yang sama?” tanyaku lirih, seakan aku tak layak untuk menanyakan hal tersebut. Lelaki itu terdiam, lalu menjawab,”Mungkin iya.”
Aku tersenyum, semburat garis lengkung terukir di bibirku. Aku tak kuasa menyangkalnya, bahwa jantung kami berdetak dengan irima yang sama. Dalam hati aku bertanya,”Mungkin iya?”
***
Dunia kami terhubung oleh irama jantung yang sama, detak nadi yang paling kuat. Sebuah keluarga terhubung oleh denyut nadi yang singkat dengan irama langkah kaki yang santai, sedangkan pasangan lelaki dan perempuan dihubungkan oleh denyut nadi dengan irama meletup-letup. Ketika mereka saling bertemu, denyut nadi mereka akan seirama lalu berdetak semakin keras.Jika bertemu seseorang dan jantungmu tidak berdegup berarti kalian tidak memiliki hubungan apapun.
Jantung ini berdetak, tanpa kehendak kami. Merekalah yang menentukan kepada siapa kami saling berbagi kasih. Otak kami menumpul sebab kami hanya berpegang teguh pada perasaan yang tumbuh merayap di relung hati ini.
Kemudian jantungku berdegup sangat kencang. Kepada orang yang baru saja kutemui beberapa hari yang lalu. Hampir dua minggu kami bertemu dan jantung ini seenaknya berdegup. Hanya orang dengan bunyi nadi yang sama yang dapat mendengar gemuruh jantung ini. Terlebih sialnya jatuh kepada pria ini, yang baru beberapa kali kutemui, yang baru saja kehilangan degup jantung lamanya, yang saat ini menatapku dan berkata, “Halo, kali ini kita bertemu kembali. Ada apa ya sebenarnya?”
Aku meleleh. Duniaku meredup. Aku tak kuasa menahan kesadaranku sebab perasaan pria ini sangat hangat hingga aku ingin menitikkan air mata.
***
Hari-hari kami berlalu sangat indah. Tidak ada yang bisa mengalahkan degup jantung kami yang kencang. Kami adalah satu jiwa yang tak terpisahkan. Aku terhipnotis olehnya, aku tak bisa kembali dalam duniaku yang dulu. Pria ini begitu hebat, dia menghempaskanku ke dunianya sangat dalam. Dia adalah heroinku, yang membuatku kecanduan setiap saat.
Pada pertemuan setahun berikutnya, jantung kami mulai melemah. Aku bertanya-tanya dalam hati,”Mengapa bisa begini? Apa yang salah dariku?” Aku masih mencintainya namun degup jantung kami perlahan tak seirama. Jantungnya berdegup sangat kencang, kemudian meredup ketika aku datang menemuinya. Telingaku mulai tuli. Suara detak nadinya perlahan menjadi sayup-sayup sendu.
“Di sini gelap, aku tak bisa mendengar detak jantungmu,”kataku perlahan. Hening, tidak ada jawaban. Aku menjadi tuli sekarang. Kupukul kepalaku ke tanah, lagi dan lagi. Tolonglah, aku memohon, kembalilah berdenyut seperti sedia kala.
Tidak ada jantung yang berdetak.
Aku mati, tidak ada yang tersisa. Hanya butiran air yang terus bergulir dari ujung mataku.
***
Aku tidak mati hanya saja aku lelah berdetak kembali. Aku tidak ingin perempuan ini disia-siakan lelaki semacam itu. Seharusnya kau dapat menggunakan telingamu lebih baik lagi, Nak. Lelaki itu tidak mempunyai degup jantung yang sama denganmu, hanya sangat mirip. Apa kau tidak ingat setiap kali bertemu denganmu denyut nadinya melemah, lalu naik turun secara acak? Apa kau terlalu buta untuk melihat ujung matanya bahwa bukan dirimu yang ia lihat melainkan wanita lain. Ia sedang memperhatikan seorang gadis rambut panjang dengan mata sipit yang indah, duduk termenung di ujung taman.
Aku ingin memaki-maki atas kebodohan yang kau perbuat. Aku berusaha mengetuk Si Otak, namun ia masih tertidur. Tidur yang paling lama yang pernah kulihat.
Aku menangis. Aku tidak kuasa melihat lelaki itu menipu dirimu dengan degup jantung imitasinya. Seharusnya kau sadar bahwa kau hanya vena kecil yang tak berarti, bukan arteri yang membawa kesegaran dalam hidupnya. Aku begitu marah sehingga aku memutuskan untuk menghentikan detak jantungmu saat ini.Persetan dengan tangismu! Aku akan membawamu pada denyut nadi yang sebenarnya, yang mengasihimu lebih dari apa pun, yang akan berdenyut semakin keras ketika kau datang dengan ceria dan memeluknya, yang akan  berdegup sepanjang masa dan tak pernah berhenti.

Aku si jantung. Aku tidak buta. Perasaan ini dapat melihatnya. Bahkan, walau logikaku terkubur dalam-dalam.

Monday, 8 September 2014

Kepada Bintang yang Kebingungan

Cynthia's Blog
“Kamu jahat. Kamu memberiku harapan yang aku tidak tahu harus bagaimana dan bahkan kamu sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
“Maaf. Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya. Bahkan kau bisa menganggapku tidak pernah mengatakannya.”
“Tidak bisa. ”
“Mengapa begitu?”
“Aku terlanjur memiliki perasaan ini.”
***
Langit
Setiap hariku berlalu biasa saja. Kau selalu di sampingku, dari awal. Mungkin karena itulah, aku tidak pernah menyadarinya. Ketika Matahariku pergi, aku sadar duniaku mulai redup. Namun, di sudut kecil, kau bersinar dalam gelap.
Cahayamu memang tidak sebesar matahariku. Kau kecil, dengan pendaran cahaya putih yang mempesona. Kau menemani redupnya hariku. Kupikir kita bisa menjadi sahabat yang baik, sungguh, aku menyukai setiap sinar tawa yang kau pancarkan dalam hidupku. Kau ada di sampingku, berbagi cerita dan tawa bersama.
Kemudian rasa ini membuncah. Kadang aku tak melihatmu sebagai temanku menjalani hari yang redup ini. Sungguh pun, kau terlihat secerah matahariku yang dulu. Kilau cahaya kecilmu seakan menemaniku di saat aku membutuhkan yang lain. Kau menghapus ingatanku begitu mudah. Hangatnya bermandikan cahaya matahari dengan selimut cahaya redup yang kau tawarkan.
Aku memang sendiri dalam dunia biru ini. Akan tetapi,kau hadir dalam pendar cahayamu untukku. Aku tidak bisa menolak pikiran ini bahwa aku: membutuhkanmu.
***
Bintang
Aku kecil dan bercahaya. Aku bersinar setiap hari. Aku bernaung dalam birumu sekian lama, namun kau baru melihatku ketika dunia ini meredup. Aku yang menyinarimu dalam gelap, dengan cahaya kecil yang kuperjuangkan terus berpendar. Hanya untukmu.
Aku tidak pernah menganggapmu lebih dari tempatku bernaung. Aku makhluk yang tahu diri. Kau dan matahari sangat dekat, tak terpisahkan. Apalah aku ini di samping hangatnya mentarimu. Kemudian kau kehilangan mataharimu sesaat. Kuputuskan untuk menjadi satu-satunya pelita dalam gelapmu. Aku yang menerangi hidupmu saat ini. Cahayaku memang tak seberapa, tapi aku selalu menemanimu dalam tawa dan canda.
Tetapi kemudian kau membuatku terkejut. Kau meruntuhkan dinding tembus pandang yang kubangun untukmu. Untuk membatasi siapa kau dan aku sebenarnya.
Sejak awal aku merasa bersyukur bahwa kau tidak melihat dan menyadari keberadaanku. Kau memiliki matahari yang sempurna, memandikanmu dalam hangatnya cahaya dan membuat rona warnamu selalu cerah. Hubungan kita tidak lebih dari sebuah bintang kecil di langit yang biru. Namun kau seperti mempermainkanku. Kau membuatku lupa siapa aku dan membuatku memiliki perasaan ini untukmu. Aku menyadarinya sekarang bahwa aku: tidak ingin kehilanganmu dalam hidupku.
***
“Kalau begitu silakan memilih. Aku atau mataharimu.”
“Kau yakin ingin mendengar pilihanku sekarang?”
“Aku tidak akan pernah siap mendengarnya. Aku tidak siap kehilanganmu dari hidupku. Jadi, sekarang atau besok, tak ada bedanya.”
Hening yang panjang.
“Maafkan aku.”
Hanya itu yang terdengar dalam birunya malam ini. Lalu langit kembali melihat bintangnya dan berkata,
“Tetapi apakah aku masih bisa bertemu denganmu?”
Hening kembali.
“Tidak bisa.”
“Mengapa begitu?”
“Aku tidak mau.”
***
Malam itu hujan. Ya, hujan yang sangat deras. Gelap. Langit menghitam dan tidak ada cahaya sama sekali. Cahaya putih nan kecil itu menghilang. Apalah guna biru langit tanpa ada cahaya di sampingnya.
***
Langit
Aku masih bersama mentari yang hangat. Matahariku memang sempurna, dalam kilau cahaya yang tak pernah padam dan merangkulku dalam kehangatan. Akan tetapi, matahari memang matahari. Begitu pula bintangku.Oh seharusnya aku tidak menyebutnya “bintangku”.

Bintang memang bintang. Dalam cahaya kecilnya yang dulu menerangiku, dia meninggalkan suatu kerinduan yang dalam padaku setiap malam. Aku rindu gurau, canda, tawa, cerca, makian, dan pandangan matanya. Aku hanya bisa mengenang suaranya dalam gelapnya rona awanku.

"Kamu maunya apa sih? :) "



Monday, 28 July 2014

Menunggu Tidaklah Mustahil

Cynthia's Blog
“Berapa lama kau akan pergi?” tanya sang Bunga seraya merunduk lesu. “’Aku tidak tahu, mungkin dua bulan, ini sudah kebiasaan kami untuk pergi mencari tempat yang lebih hangat,” jawab sang Burung, memeluk tubuh dengan kedua sayapnya. Bunga tahu musim akan berganti dan cintanya ini akan pergi, tergantikan oleh musim dingin yang beku.
Ia ingin berucap kembali, namun tidak ada keberanian yang membuncah dari hatinya. Ia tahu hal ini akan terjadi, ia tahu bahwa suatu saat cintanya akan pergi. Ia ingin menahan kepergian Burung tetapi ia tidak ingin terlihat buruk dengan egonya. Tamaklah sekali sebuah Bunga yang terlahir dari ujung pohon ini meminta seekor Burung tetap bersama dan mencintainya selalu. “Kenapa tiba-tiba diam? Ayolah, daun-daun sangat bagus di sini, aku ingin duduk bersantai di dekatmu” Suara sang Burung membuyarkan lamunannya, ia hanya tersipu malu dan mengusap kelopaknya dekat dengan sayap sang Burung.
***
Ia datang pada saat musim semi, saat aku kecil dan kelopakku masih putih. Ia berkata dengan nada lembut namun tegas, “Permisi, aku membutuhkan tempat tinggal sementara, bolehkah aku membangun sarang di sini?” Tentu saja pohon ini mengangguk senang, begitu pula aku. Kami hanya pohon kecil dengan daun hijau lebar dan banyak bunga indah bermekaran. Dia bisa saja bicara pada bunga yang lain, entah mengapa dia bicara padaku. “Hai kecil, namaku Burung, senang bertemu denganmu.” Aku hanya tersenyum seraya melambaikan kelopakku. Dia tumbuh bersamaku, menjadi tetanggaku yang paling ramah, kakakku yang paling baik, sekaligus ayahku yang paling bijak. Dia tak pernah lelah bercerita tentang dunia yang ia jelajahi bersama sayapnya yang kuat membentang.
Hanya saja aku tak mengerti tentang musim kawinnya. Aku tahu semua binatang punya musim kawin, tapi burungku tidak melakukannya. Ia tidak membawa betina mana pun ke dalam sarangnya di pohon kami, tidak ada anak burung yang menciap-ciap dari balik timbunan ranting, tidak ada cacing-cacing di paruhnya yang dia bawa pulang untuk seekor lain. “Aku tidak berniat melakukannya. Kau bisa bilang aku ini aneh, tapi aku tidak tertarik melakukannya. Aku nyaman tinggal di sini bersamamu,”jawabnya ketika kutanya mengapa tidak mengikuti trend musim kawin.
Oh, dia curang. Tentu saja karna dia memberiku secercah harapan untuk tinggal di sisinya. Menemaninya menikmati pergantian musim. Lalu aku tumbuh semakin dewasa dan perasaan ini semakin meluap. Hingga pergantian musim dingin ini, sesuatu yang beku meremukkan harapanku. Kepergiannya dan tubuhku yang akan gugur dari ranting pohon.
***
Ketakutan merundung relung hati Bunga untuk bertanya apakah Burung akan kembali ketika musim semi, mengepakkan sayapnya yang kokoh dan mendaratkan kaki mungilnya di batang pohon ini dan menyuarak masuk ke tubuh pohon lalu berbaring kembali di sarangnya. Apakah akan semudah itu? Ia tak yakin Burung mengingat letak sarangnya, mungkin lebih mudah bagi mereka untuk membangun sarang baru.

“Kau tahu ada beberapa hal yang mustahil dilakukan, tapi kita setiap makhluk hidup selalu dapat melakukannya,”kata sang Burung memecah keheningan. “Kau sedang bermain dengan pikiran,”Bunga tertawa,”katakanlah apa yang kau mau.”

“Jangan gugur dari pohon ini sampai musim semi berikutnya dan aku akan kembali ke sarangku ini.”
Mustahil! Bunga tidak bisa menahan tubuhnya koyak oleh terpaan angin dingin, belum lagi embun salju yang menguyurnya tiap hari. Akan tetapi, tidak ada yang bisa membiusnya selain kalimat terakhir. Bunga sangat ingin bertemu dengan sang Burung kembali. Dalam hatinya, muncul deklarasi bahwa musim dingin pun tidak akan penyurutkan penantiannya. Apakah Bunga gila? Tentu saja, karena sejak awal ia telah dikalahkan oleh perasaannya.
***
“Kamu baca apa?”tanya laki-laki itu. Si perempuan tergagap dan menutup bukunya, “Bukan apa-apa, buku ini hanya menghiburku.” Laki-laki itu tersenyum dan memasukkan sejumlah baju ke dalam tas ransel hitamnya. Perempuan itu menekuk pinggir halaman buku yang paling atas lalu menaruhnya di samping, “Kamu sudah selesai packing?” Laki-laki itu mengangguk dan dengan gesit merebut buku itu lalu membuka halaman yang ditekuk. Si perempuan berdecak kesal dan pipinya bersemu merah.
“Aku tidak melakukan hal yang mustahil kok, dan aku tidak pergi sesuai musim,” kata laki-laki itu kemudian. Si perempuan tidak menjawab karena kesal bercampur malu. “Ah, tapi cerita ini ada benarnya juga, sini berikan tanganmu.” Laki- laki itu menarik tangan perempuannya dan meletakkan segerombol kunci di tangannya.
“Ini kunci kehidupanku, silahkan kamu bawa. Biar semakin mirip dengan sarang si burung, bagaimana?”

Perempuan itu hanya tersenyum kecil dan memeluk lelaki di hadapannya itu seraya berbisik, “Selamat jalan, jangan lupa ada yang menunggumu di sini.”


Thursday, 16 January 2014

Kita adalah Lukisan Tuhan

Cynthia's Blog

Tuhan itu pelukisnya

Aku kanvasnya

Dan kamu coretan di kanvasku


Aku kanvas. Tuhan menorehkan pensil dan kuasnya diatas tubuhku. Ia selalu berhati-hati dalam membuat setiap guratan pensil, bahkan sekecil apapun. Ia orang yang sangat teliti, Ia mengukur pinggiran badanku terlebih dahulu, meraut semua pensilnya dan membersihkan ujung kuas dan paletnya.Setiap kali Ia melukis rasanya sangat menggelikan. Kadang bahagia menjalari tubuhku karena bisa merasakan tanganNya yang berkarya, bahagia karena mataNya selalu menatapku dengan tajam dan penuh kehati-hatian, bahagia karna Dia selalu dihadapanku dan menentukan akan jadi apa aku ini. Kadang lukisannya sangat rumit, membuatku pusing bagaimana Ia mengakhirinya. Namun itu selalu tampak mudah bagiNya. Tiba-tiba saja Ia mengakhiriNya dengan goresan yang lembut dan bermakna. Selalu begitu. Itu menyebalkan di satu sisi, karna aku lebih suka Ia melukisku dengan perpaduan warna sederhana yang bermakna, bukan yang rumit-rumit. Dibalik lukisannya yang penuh liku, Ia selalu mengejutkanku, menghadiahi aku dengan goresan akhir yang indah. 

Tia-tiba saja Ia mengejutkanku. Bukan kejutan yang menyenangkan. Ia menggoreskan satu coretan besar di tubuhku yang putih. Aku tidak tahu maksudnya. Ini bukan Dia yang kukenal. Dia tidak mengukur pinggiran tubuhku lagi, tetapi langsung meraut pensil dan membuat coretan besar di tengah badanku. Aku sedikit gusar. Mau jadi apa coretan ini. Bahkan aku pikir, Tuhan melakukannya dengan sengaja.

***
Halo! Aku coretan! Aku sedang tersenyum kepada kalian. Entahlah. Tuhan membentukku seperti coretan di wajah manusia bulat berwarna kuning, jadi sudah seharusnya aku tersenyum. Kelahiranku tidak terencana. Yah, aku tidak tahu. Rasanya seperti lahir diluar perkawinan orang tuamu. Tapi Tuhan berbisik padaku, katanya tidak ada yang terjadi di luar rencananya, ia sudah mengaturnya. KataNya dalam waktu dekat aku akan menyempurnakan hidup sebuah kanvas, tetapi sebelum itu aku harus menunggu dengan sabar. Ia akan menyelesaikan goresan yang lain terlebih dahulu.
***
Awalnya kanvas sangat gusar dengan kehadiran coretan itu, bukan gusar tepatnya, tetapi gelisah. Apakah yang dilakukan Tuhannya ini benar? Apakah bersama coretan ini akan menjadikannya sebuah lukisan sempurna? Berbagai dugaan berkelebat di hatinya. Sementara itu si coretan biasa saja. Ia mencoba mengajak si kanvas bicara dan bersenda gurau. Coretan itu banyak tertawa dan sangat lucu. Hidupnya sangat santai. Ia berkata pada kanvas," Tuhan yang memperbolehkan aku hadir di atasmu,jika ia ingin menghapusku, maka hapuslah. Tapi aku yakin segala tindakannya pasti bermakna." 
Kanvas sangat heran, tetapi perkataan barusan sungguh menarik simpatinya. Ia tidak segelisah dulu. Ia banyak bercerita dan tertawa pada si coretan. Mereka menjadi sangat dekat dan akrab.

Hingga suatu saat, Tuhan mengarahkan penghapusnya ke arah coretan dan membuat kanvas berteriak. Ia tidak ingin coretan itu menghilang dari tubuhnya. Tetapi ia juga ragu apabila Tuhan menawarkan untuk meneruskan coretan ini, menjadi semakin lebar dan panjang. Kanvas hanya terdiam. Kehadiran coretan ini sudah memberinya makna tersendiri tetapi ia tidak berani meminta pada Tuhan untuk melanjutkannya. Akhirnya, dalam tangis kebingungan, kanvas berkata," Biarkanlah coretan ini berbentuk seperti semula. Jalinlah coretan, guratan, arsiran, titik-titik lainnya yang akan menghubungkan kami. Maka kami akan menjadi lukisanmu yang terbaik."

Tuhan hanya tersenyum penuh makna, ia tidak membalas perkatan kanvas. Ia membuat arsiran di sekitar badan coretan dalam diam. Kanvas tidak mengerti apa maksud Tuhan. Kemudian coretan menatap matanya dan berkata "Kupikir aku jatuh cinta denganmu,"

"Apa?Ini baru beberapa hari sejak kau di sini. Kau belum terbiasa denganku, bagaimana kau bisa bilang cinta?"
"Cinta datang karena proses, prosesku denganmu sangat cepat tetapi berkualitas."
"Berkualitas apa?"
"Sudah diam saja..sstt"

Lalu mereka akan bekerja sama untuk menjadi lukisan terbaik untukNya 
 "Semua itu tergantung kamu. 
Mau jadi apa coretan itu. 
Pasti kamu bisa mengubahnya menjadi bentuk yang lebih bermakna. 
Jangan takut, aku akan membantumu memegang kuasnya"

Saturday, 21 December 2013

Sisa Kenangan

Cynthia's Blog





Dalam ruang gelap ini, terdapat saatu pembicaraan. Tanya jawab yang sulit, antara Pikiran dan hati.

“Apakah jatuh cinta tanpa alasan itu bisa?” tanya Pikiran pada hati. Hati hanya termenung. “Entahlah, aku juga baru kali ini merasakannya.”

“Tidak perlu dirasakan,coba sekali-kali gunakan otakmu seperti aku,”dengus Pikiran kesal.
***

“Siapa ini?”

Waktu itu malam sangat gelap, ditambah lagi mata kami ditutup dengan kain hitam pekat. Tanganku dibimbing untuk menyentuh pundak orang dihadapanku. Badannya tinggi dan bahunya lebar. Aku bahkan bisa merasakan hembus napasnya.
           
Aku menyebut namaku, kemudian dia membalas dengan O yang panjang. Aku memegang pundaknya dalam diam. Kemudian aku merasakan tangan temanku yang lain naik di pundakku. Tangan yang kecil dengan jari yang lentik. Ini pasti jari perempuan. Lalu terdengar aba-aba dari orang disebelahku, “Pegang pundak temanmu dengan erat ya, kita mau jalan. Hati-hati jalannya terjal.”

Aku mengangguk perlahan. Aku tidak memegang pundaknya dengan erat karena sungkan tetapi kemudian tangannya memegang tanganku dan meletakkan dengan erat di pundaknya. “Pegangan yang benar, aku tidak mau kalau ada yang jatuh.”

Untungnya saat itu sudah sangat malam sehingga aku membiarkan semburat merah muda merembet naik ke pipiku. “Ya.” Hanya satu patah kata yang kuucapkan. Kemudian aku membiarkan dirinya menuntunku dalam gelap.
***

Lampu dinyalakan. Cahaya putih memandikan bola mata kami. Kami mengerjap mata kami karena tidak biasa melihat cahaya. Terlalu lama kami dalam ruangan gelap ini.

Dia duduk dihadapanku. Kepalanya menunduk. Pandangan matanya pada tertuju pada kakinya yang berayun. Kami berlima saling bercakap-cakap dalam ruangan sempit itu. Kata kakak pembimbing sebentar lagi kami akan bertemu dengan kakak-kakak angkatan yang lain.

Kemudian dia bangkit dan duduk di sampingku. Semua orang di ruangan itu diam, termasuk aku. Tapi kami tidak mampu berucap apapun.

Lalu suasana mencair ketika beberapa kakak angkatan mulai masuk ke ruangan sempit kami. Ketika itu, kami diminta untuk memperkenalkan teman di samping kami. Aku memperkenalkan dirinya, sekolahnya, dan asalnya. Kemudian dia menepuk pundakku dan memperkenalkan diriku secara lengkap. Tidak, aku berlebihan. Dia tidak menyebut nama belakangku. Tapi dia memperkenalkan diriku dengan tersenyum, senyum itu yang terbaik.

Setelah kakak angkatan masuk ke ruangan kami, silih berganti, sampai kami bosan dan lelah, aku mengambil bantal di sudut ruangan dan merebahkan diriku di dipan yang kududuki. “Geser dong,” katanya padaku. Kemudian kami berbagi bantal dan dia tidur di sebelahku tepat.

“Orang tuamu kerja apa?”
“Mereka polisi, sekarang sedang dinas di luar pulau.”
“Lalu kamu sendirian saja di rumah?”
“Tidak, aku dengan pembantuku.”

Kami bicara panjang lebar. Sangat panjang dan lebar. Bahkan aku tidak peduli apakah teman sekelompok kami mendengarkan obrolan kami. Bahkan aku menyinggung waktu pertama kali bertemu dengannya, “Waktu itu kamu bawa kartu JKT 48? Kamu fans clubnya?”

“Iya aku suka sekali,”jawabanya bersemangat.
“Lalu kalau ada cover dance JKT 48 tapi tariannya tidak mirip, menurutmu bagaiman?”
“Yah, aku hargai sih, mereka kan udah berusaha juga.”
“Oya, aku jadi ingat dulu kakak kelasku suka sekali dengan JKT 48, lalu dia sering membandingkan pacarnya dengan JKT 48.”
“Wah, itu tolol namanya,” jawabnya sambil tertawa,”Harusnya dia hargai perempuan yang ada dengannya saat ini.”
***

“Apakah waktu itu kau berdebar-debar?” tanya Pikiran. Hati menggeleng, “Tidak kok, karena aku rasa kami hanya berteman.”

“Tapi aku suka perlakuannya padaku,” tambah Hati sambil meringis. Pikiran duduk dan tampak merenung dengan serius. “Baiklah, kau rasakan saja terus. Aku mau berpikir dulu, nanti kalau sudah aku beritahu padamu.” Dan Hati pun hanya menurut.
***

Air dingin merembes masuk baju kami. Aku mengigil kedinginan. Walaupun hari sudah siang tapi diguyur dengan air kali itu bukan main dinginnya. “Dingin sekali,” keluhku. Memang, aku yang terkena air paling banyak. Badanku basah kuyub semua, padahal temanku yang lain hanya terkena air sebagian badan dan rambutnya saja. “Kenapa sih?”tanya Dia padaku. “Dingin. Butuh pelukan,” kataku sambil tertawa, maksudku bercanda. Ayolah, yang benar saja. Lagipula aku mengatakannya sambil tertawa. Akan tetapi, ia benar melakukannya untukku. Kemudian tangannya menepuk-nepuk kepalaku pelan.

Aku tidak mengerti harus meletakkan perasaanku dimana. Maka kuputuskan untuk membungkamnya terlebih dahulu. Selama permainan berlangsung, dia terlihat tidak serius melakukannya. Bahkan kelompok kami kalah terus. Tetapi selama perjalanan dia terus mengajakku bicara.  Kami pukul memukul bahu, tertawa, dan dia merangkulku. Semua terjadi begitu saja, seolah itu hal yang wajar. Karena ada kedekatan di antara ruang udara kami.
           
Kami mengikuti sesi acara dengan baik. Sampai hari terakhir, selesai melakukan foto bersama, dia merangkulku lagi. Aku balas meninju perutnya. “Nanti jadi datang ya? Anak cowok mau makan-makan setelah acara ini selesai.”

“Tapi aku tidak bawa kendaraan,” jawabku.

“Tenang, ada yang bawa mobil kok.” Lalu aku menyanggupinya. Aku mengajak satu teman perempuanku untuk menemaniku.

Kami tidak tahu apa yang terjadi. Sampai aku bertanya pada salah satu teman laki-lakiku, dan temanku menjawab bahwa minggu lalu dia berulang tahun. Dia hendak mengadakan acara ‘makan-makan’ bersama.
Akan tetapi, telepon mamaku mengacaukan semuanya. Bukan, aku yang mengacaukan semuanya. Mama mengatakan ia tidak bisa menjemputku diatas jam enam malam, dan memintaku segera pulang. Wajahku berubah masam. Bagaimana tidak, aku baru menyentuh ubin restorannya sekitar sepuluh menit yang lalu dan sekarang aku harus pergi. Aku meletakkan rupiah dan kutindih dibawah minumanku,”Aku bayar sendiri ya, aku harus pulang sekarang.”

“Lho memangnya sudah dijemput?”
“Belum sampai sih..”
“Kalau begitu di sini saja sampai mamamu datang,”
“Tidak, dia sudah hampir sampai mungkin.”

Lalu aku beranjak dari kursi, dan meninggalkannya dengan seribu langkah kebodohan.
Setelah itu, kami tidak pernah menjadi dekat kembali. Semua seperti sedia kala. Ketika kami pertama kali mengenal dan ada tembok canggung diantara kami. Rasa ketertarikan diantara kami pun sudah pudar. Kami? Bahkan sedari awal, kupikir aku harus menggunakan ‘aku’ untuk menyebut perasaan sepihak ini.
***
“Hei, pikiran, bagaimana kalau sekarang kau yang bekerja? Aku sudah mulai lelah,”keluh Hati.

“Kenapa lelah? Bukankah katamu perasaanmu terus tumbuh? Bahkan setelah acara malam keakraban itu seleai?” tanya Pikiran heran.

“Iya tumbuh,tetapi di satu sisi, sementara sisi yang lain mati.”

“Kenapa?”

“Karena kisah si pemilik kita dengan laki-laki itu tidak pernah berlanjut lagi. Aku lelah tiap kali pemilik kita mengingat namanya dan aku merasakan ngilu yang sangat.”

“Kupikir kita harus melupakannya, kamu, aku, dan si pemilik kita,”

Hati menangguk pasrah. Kemudian ia mencabut akar cerita yang tumbuh di sekitar dirinya. Akar cerita itu mulai membusuk. Pikiran pun meraba-raba kepalanya dan menekan tombol hapus. Hati dan Pikiran pun sepakat untuk mengubur akar cerita yang mulai membusuk dan memilih untuk melupakannya.


Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Distributed By Blogger Template