Monday, 8 September 2014

Kepada Bintang yang Kebingungan

Cynthia's Blog
“Kamu jahat. Kamu memberiku harapan yang aku tidak tahu harus bagaimana dan bahkan kamu sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
“Maaf. Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya. Bahkan kau bisa menganggapku tidak pernah mengatakannya.”
“Tidak bisa. ”
“Mengapa begitu?”
“Aku terlanjur memiliki perasaan ini.”
***
Langit
Setiap hariku berlalu biasa saja. Kau selalu di sampingku, dari awal. Mungkin karena itulah, aku tidak pernah menyadarinya. Ketika Matahariku pergi, aku sadar duniaku mulai redup. Namun, di sudut kecil, kau bersinar dalam gelap.
Cahayamu memang tidak sebesar matahariku. Kau kecil, dengan pendaran cahaya putih yang mempesona. Kau menemani redupnya hariku. Kupikir kita bisa menjadi sahabat yang baik, sungguh, aku menyukai setiap sinar tawa yang kau pancarkan dalam hidupku. Kau ada di sampingku, berbagi cerita dan tawa bersama.
Kemudian rasa ini membuncah. Kadang aku tak melihatmu sebagai temanku menjalani hari yang redup ini. Sungguh pun, kau terlihat secerah matahariku yang dulu. Kilau cahaya kecilmu seakan menemaniku di saat aku membutuhkan yang lain. Kau menghapus ingatanku begitu mudah. Hangatnya bermandikan cahaya matahari dengan selimut cahaya redup yang kau tawarkan.
Aku memang sendiri dalam dunia biru ini. Akan tetapi,kau hadir dalam pendar cahayamu untukku. Aku tidak bisa menolak pikiran ini bahwa aku: membutuhkanmu.
***
Bintang
Aku kecil dan bercahaya. Aku bersinar setiap hari. Aku bernaung dalam birumu sekian lama, namun kau baru melihatku ketika dunia ini meredup. Aku yang menyinarimu dalam gelap, dengan cahaya kecil yang kuperjuangkan terus berpendar. Hanya untukmu.
Aku tidak pernah menganggapmu lebih dari tempatku bernaung. Aku makhluk yang tahu diri. Kau dan matahari sangat dekat, tak terpisahkan. Apalah aku ini di samping hangatnya mentarimu. Kemudian kau kehilangan mataharimu sesaat. Kuputuskan untuk menjadi satu-satunya pelita dalam gelapmu. Aku yang menerangi hidupmu saat ini. Cahayaku memang tak seberapa, tapi aku selalu menemanimu dalam tawa dan canda.
Tetapi kemudian kau membuatku terkejut. Kau meruntuhkan dinding tembus pandang yang kubangun untukmu. Untuk membatasi siapa kau dan aku sebenarnya.
Sejak awal aku merasa bersyukur bahwa kau tidak melihat dan menyadari keberadaanku. Kau memiliki matahari yang sempurna, memandikanmu dalam hangatnya cahaya dan membuat rona warnamu selalu cerah. Hubungan kita tidak lebih dari sebuah bintang kecil di langit yang biru. Namun kau seperti mempermainkanku. Kau membuatku lupa siapa aku dan membuatku memiliki perasaan ini untukmu. Aku menyadarinya sekarang bahwa aku: tidak ingin kehilanganmu dalam hidupku.
***
“Kalau begitu silakan memilih. Aku atau mataharimu.”
“Kau yakin ingin mendengar pilihanku sekarang?”
“Aku tidak akan pernah siap mendengarnya. Aku tidak siap kehilanganmu dari hidupku. Jadi, sekarang atau besok, tak ada bedanya.”
Hening yang panjang.
“Maafkan aku.”
Hanya itu yang terdengar dalam birunya malam ini. Lalu langit kembali melihat bintangnya dan berkata,
“Tetapi apakah aku masih bisa bertemu denganmu?”
Hening kembali.
“Tidak bisa.”
“Mengapa begitu?”
“Aku tidak mau.”
***
Malam itu hujan. Ya, hujan yang sangat deras. Gelap. Langit menghitam dan tidak ada cahaya sama sekali. Cahaya putih nan kecil itu menghilang. Apalah guna biru langit tanpa ada cahaya di sampingnya.
***
Langit
Aku masih bersama mentari yang hangat. Matahariku memang sempurna, dalam kilau cahaya yang tak pernah padam dan merangkulku dalam kehangatan. Akan tetapi, matahari memang matahari. Begitu pula bintangku.Oh seharusnya aku tidak menyebutnya “bintangku”.

Bintang memang bintang. Dalam cahaya kecilnya yang dulu menerangiku, dia meninggalkan suatu kerinduan yang dalam padaku setiap malam. Aku rindu gurau, canda, tawa, cerca, makian, dan pandangan matanya. Aku hanya bisa mengenang suaranya dalam gelapnya rona awanku.

"Kamu maunya apa sih? :) "



Monday, 4 August 2014

a breathtaking love story

Cynthia's Blog
Namun lagi dan lagi kita mengenal bahasa cinta, dan halaman gereja kecil di sana, dengan nama-nama menyedihkan dan jurang rahasia menakutkan orang lain menemukan akhir mereka: lagi dan lagi kita berdua berjalan keluar menuju pepohonan tua, berbaring lagi dan lagi diantara bunga, berhadap-hadapan dengan langit.
Rainer Maria Rilke


Judul: Shiver (Beku)
Pengarang: Maggie Stiefvater
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2010
Tebal halaman: 432 halaman
Penghargaan:  
Publisher Weekly Best Book of The Year
Amazon Top Ten Books for Teens
American Library Association Best Books for Young Adults

S
hiver adalah sebuah karya Maggie Stiefvater yang hampir mirip dengan Twilight. Kedukaan cinta melebur dalam kisah manusia setengah serigala atau werewolf  bernama Sam dengan seorang gadis bernama Grace. Setiap untaian kata dalam suatu bab diceritakan dengan sudut pandang feminim, lembut,dan romantis milik Sam serta praktis, tegas, dan penuh harap milik Grace. Keduanya bertemu dalam musim dingin beku, saat Grace kecil diserang sekawanan serigala dan Sam menyelamatkannya. Sejak itu, setiap tautan mata mereka mengisahkan cinta. Grace selalu menunggu di balik jendela rumahnya, begitu pula serigalanya di pinggir hutan. Selama enam tahun cinta mereka terpendam satu sama lain. Hingga perburuan serigala yang menyebabkan Sam tertembak dan bertemu Grace dalam wujud manusia. Mereka menjalani hari penuh cinta dan tawa selama setahun, dalam kegelisahan yang disembunyikan Sam bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya menjadi manusia. Masalah bertambah ketika Jack, teman Grace, menjadi werewolf dan mengacaukan segalanya lalu menggigit Olivia, yang menjadikan gadis itu sebagai werewolf pula. Keinginan Grace untuk bersama Sam sebagai manusia untuk bersama terus membuncah seiring cerita berjalan dan mereka menghadapi semuanya dengan genggaman tangan.
Maggie menggunakan alur maju yang sederhana dengan sudut panjang yang manis milik Sam sekaligus praktis milik Grace. Kisah cinta remaja ini selalu membuat pembaca tidak bisa melepas pandangan dan terus membaca sampai kisah ini selesai. Oleh karena, pada awalnya kisah cinta sederhana antara Sam dan Grace lalu menjadi kompleks dengan masalah-masalah lain hingga akhirnya memuncak pada harapan di akhir kisah. Namun, beberapa hal terdapat kejanggalan waktu, saat Sam menjadi werewolf pada usia tujuh tahun tetapi ketika dewasa memiliki SIM. Kisah Sam dan Grace sangat cocok untuk pembaca yang menyukai cerita cinta dengan bumbu magis di dalamnya.
Dan meninggalkanmu (tak ada kata untuk menguraikannya)
Kehidupanmu, penuh ketakutan, luas, dan sedang mekar,
sehingga kadang rasa frustasi, namun kadang memahami,

Terkadang hidupmu bagaikan batu di dalam diri, namun berikutnya, menjadi bintang

Monday, 28 July 2014

Menunggu Tidaklah Mustahil

Cynthia's Blog
“Berapa lama kau akan pergi?” tanya sang Bunga seraya merunduk lesu. “’Aku tidak tahu, mungkin dua bulan, ini sudah kebiasaan kami untuk pergi mencari tempat yang lebih hangat,” jawab sang Burung, memeluk tubuh dengan kedua sayapnya. Bunga tahu musim akan berganti dan cintanya ini akan pergi, tergantikan oleh musim dingin yang beku.
Ia ingin berucap kembali, namun tidak ada keberanian yang membuncah dari hatinya. Ia tahu hal ini akan terjadi, ia tahu bahwa suatu saat cintanya akan pergi. Ia ingin menahan kepergian Burung tetapi ia tidak ingin terlihat buruk dengan egonya. Tamaklah sekali sebuah Bunga yang terlahir dari ujung pohon ini meminta seekor Burung tetap bersama dan mencintainya selalu. “Kenapa tiba-tiba diam? Ayolah, daun-daun sangat bagus di sini, aku ingin duduk bersantai di dekatmu” Suara sang Burung membuyarkan lamunannya, ia hanya tersipu malu dan mengusap kelopaknya dekat dengan sayap sang Burung.
***
Ia datang pada saat musim semi, saat aku kecil dan kelopakku masih putih. Ia berkata dengan nada lembut namun tegas, “Permisi, aku membutuhkan tempat tinggal sementara, bolehkah aku membangun sarang di sini?” Tentu saja pohon ini mengangguk senang, begitu pula aku. Kami hanya pohon kecil dengan daun hijau lebar dan banyak bunga indah bermekaran. Dia bisa saja bicara pada bunga yang lain, entah mengapa dia bicara padaku. “Hai kecil, namaku Burung, senang bertemu denganmu.” Aku hanya tersenyum seraya melambaikan kelopakku. Dia tumbuh bersamaku, menjadi tetanggaku yang paling ramah, kakakku yang paling baik, sekaligus ayahku yang paling bijak. Dia tak pernah lelah bercerita tentang dunia yang ia jelajahi bersama sayapnya yang kuat membentang.
Hanya saja aku tak mengerti tentang musim kawinnya. Aku tahu semua binatang punya musim kawin, tapi burungku tidak melakukannya. Ia tidak membawa betina mana pun ke dalam sarangnya di pohon kami, tidak ada anak burung yang menciap-ciap dari balik timbunan ranting, tidak ada cacing-cacing di paruhnya yang dia bawa pulang untuk seekor lain. “Aku tidak berniat melakukannya. Kau bisa bilang aku ini aneh, tapi aku tidak tertarik melakukannya. Aku nyaman tinggal di sini bersamamu,”jawabnya ketika kutanya mengapa tidak mengikuti trend musim kawin.
Oh, dia curang. Tentu saja karna dia memberiku secercah harapan untuk tinggal di sisinya. Menemaninya menikmati pergantian musim. Lalu aku tumbuh semakin dewasa dan perasaan ini semakin meluap. Hingga pergantian musim dingin ini, sesuatu yang beku meremukkan harapanku. Kepergiannya dan tubuhku yang akan gugur dari ranting pohon.
***
Ketakutan merundung relung hati Bunga untuk bertanya apakah Burung akan kembali ketika musim semi, mengepakkan sayapnya yang kokoh dan mendaratkan kaki mungilnya di batang pohon ini dan menyuarak masuk ke tubuh pohon lalu berbaring kembali di sarangnya. Apakah akan semudah itu? Ia tak yakin Burung mengingat letak sarangnya, mungkin lebih mudah bagi mereka untuk membangun sarang baru.

“Kau tahu ada beberapa hal yang mustahil dilakukan, tapi kita setiap makhluk hidup selalu dapat melakukannya,”kata sang Burung memecah keheningan. “Kau sedang bermain dengan pikiran,”Bunga tertawa,”katakanlah apa yang kau mau.”

“Jangan gugur dari pohon ini sampai musim semi berikutnya dan aku akan kembali ke sarangku ini.”
Mustahil! Bunga tidak bisa menahan tubuhnya koyak oleh terpaan angin dingin, belum lagi embun salju yang menguyurnya tiap hari. Akan tetapi, tidak ada yang bisa membiusnya selain kalimat terakhir. Bunga sangat ingin bertemu dengan sang Burung kembali. Dalam hatinya, muncul deklarasi bahwa musim dingin pun tidak akan penyurutkan penantiannya. Apakah Bunga gila? Tentu saja, karena sejak awal ia telah dikalahkan oleh perasaannya.
***
“Kamu baca apa?”tanya laki-laki itu. Si perempuan tergagap dan menutup bukunya, “Bukan apa-apa, buku ini hanya menghiburku.” Laki-laki itu tersenyum dan memasukkan sejumlah baju ke dalam tas ransel hitamnya. Perempuan itu menekuk pinggir halaman buku yang paling atas lalu menaruhnya di samping, “Kamu sudah selesai packing?” Laki-laki itu mengangguk dan dengan gesit merebut buku itu lalu membuka halaman yang ditekuk. Si perempuan berdecak kesal dan pipinya bersemu merah.
“Aku tidak melakukan hal yang mustahil kok, dan aku tidak pergi sesuai musim,” kata laki-laki itu kemudian. Si perempuan tidak menjawab karena kesal bercampur malu. “Ah, tapi cerita ini ada benarnya juga, sini berikan tanganmu.” Laki- laki itu menarik tangan perempuannya dan meletakkan segerombol kunci di tangannya.
“Ini kunci kehidupanku, silahkan kamu bawa. Biar semakin mirip dengan sarang si burung, bagaimana?”

Perempuan itu hanya tersenyum kecil dan memeluk lelaki di hadapannya itu seraya berbisik, “Selamat jalan, jangan lupa ada yang menunggumu di sini.”


Saturday, 26 July 2014

Ketika masa kanak-kanakmu lebih berharga...

Cynthia's Blog
Nama buku: Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri)
Pengarang: Cornelia Funke
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011
Tebal buku: 420 halaman

Akhirnya Yesus! Buku ini sudah lama ingin aku beli sejak kelas 1 SMA tapi baru terbeli awal Juli 2014 lalu karena cuci gudang besar-besarannya Gramedia. Jadi semakin yakin kalau Tuhan mengabulkan keinginan kita, walaupun butuh waktu yang lama. Anyway, buku ini berkisah tentang seorang kakak beradik bernama Prosper dan Bo. Keduanya kabur dari kejaran paman dan bibi yang akan mengadopsi Bo dan membawa Prosper ke sekolah asrama. Cerita yang mengambil latar kemegahan kota Venezia ini membawa mereka berpetualang bersama teman-teman baru, Tawon, Mosca, dan Riccio. Mereka adalah sekelompok anak jalanan yang hidup di Istana Bintang,sebuah gedung bioskop tua. Mereka mendapat barang curian dari seorang anak laki-laki misterius bernama Scipio atau biasa dipanggil Pangeran Pencuri. Barang curian itu akan mereka jual pada seorang pedagang barang antik yang licik bernama Barbarossa. Suatu ketika, muncul Victor, seorang detektif yang disewa paman dan bibi Prosper untuk menemukan keponakannya. Namun, justru ia menemukan Istana Bintang kesayangan mereka, tak disangka pula ia mengetahui identitas Scipio yang ternyata putra Doctor Massimo yang sangat kaya di kota itu. Persahabatan mereka menjadi runyam karena merasa ditipu oleh Scipio. Masalah tidak selesai begitu saja, anak-anak itu mendapat tugas dari Sang Conte untuk mencuri sebuah sayap kayu dari Ida Spavento dengan imbalan uang yang sangat banyak. Sayap palsu tersebut akan digunakan untuk menghidupkan komedi Putar Suster Putri Kasih yang akan menjadikan seseorang lebih muda beberapa tahun. Sejak peristiwa itulah, kehidupan anak-anak jalanan tersebut semakin rumit.
Cornelia Funke
Penulis Inkheart 

Sampul buku Tahun 2011
Cornelia Funke berhasil meramu kata dan rima dalam petualangan anak-anak yang seru. Alur ceritanya sangat menarik karena menumpuk masalah demi masalah dan menyelesaikannya pada akhir cerita, seperti sebuah sulur pohon yang panjang namun bertemu pada satu titik. Novel ini sangat mengesankan karena kita tidak dapat menduga akhir kisahnya walaupun dengan alur maju yang sederhana. Penghadiran tokoh yang muncul satu persatu seiring dengan jalan cerita sangatlah menarik.Hanya saja, penggunaan judul Pangeran Pencuri untuk menggambarkan kisah ini tidaklah tepat karena inti ceritanya berorientasi pada Prosper dan Bo. Petualangan anak jalanan ini memberi makna bahwa kita harus menikmati masa kanak-kanak kita yang penuh warna dan terus melangkah ke depan walaupun dunia menampar kita dengan keras.

"Kau pernah merasa ingin cepat besar?" Prosper bertanya ketika mereka melewati jembatan yang tercermin samar-samar di permukaan air. Riccio menggeleng "Tidak, kenapa? Jauh lebih praktis kalau kita tetap kecil. Kita tidak terlalu menarik perhatian, dan kita jauh lebih cepat kenyang. Kau tahu apa yang selalu dikatakan Scipio?" Ia melompati ujung jembatan. "Anak-anak seperti ulat dan orang dewasa seperti kupu-kupu. Dan tidak ada kupu-kupu yang masih ingat bagaimana rasanya menjadi ulat."

Wednesday, 12 February 2014

Community Building - Day 2

Cynthia's Blog

Kami siap bersenang-senang hari ini!

Hari ini kakak-kakak PIA Kotabau akan mengikuti outbond. Pagi hari kami makan terlebih dahulu. Lalu santai-santai hingga pukul 8 pagi.


Ayunan pagi bareng Lukas
Kami berkumpul di halaman belakang villa dan berbaris. Kami akan melakukan senam pagi bersama-sama.
Setelah itu, kami memasuki sesi permainan. 
Pertama ada seven up. Kami duduk melingkar dan menghitung hingga angka 70. Setiap orang yang mengatakan angka kelipatan 7 harus bertepuk tangan. Lalu juga ada games 369.
Kami bermain game lagi, yang aku lupa namanya, dengan mengikat tangan satu sama lain dengan rafia dan harus melepaskan  ikatan tanpa membukanya.
Kedua, ada games angkat baskom. Tetapi hanya boleh menggunakan telapak kaki saja. Kami duduk melingkar dan bekerja sama untuk mengangkatnya tinggi-tinggi.

Ketiga, ada games "Pembuat Roti". Kami membentuk barisan dan diberi dua piring. Pertama-tama kami saling mengoper air dengan piring dar atas kepala. Tentu saja baju kami basah. Kemudian kami saling mengoper tepung dengan piring yang sama. Tepung itu dimasukkan ke dalam baskom bersama air dan kami aduk jadi adonan roti.

Keempat, kami bermain "Pipa Bocor". Kami diberi pipa besar dengan lubang kecil di sekelilingnya. Di dalamnya terdapat bola besar yang harus dikeluarkan dengan menggunakan air. Kami bekerja sama menutup lubang-lubang di sekitarnya. Kak Yuyus, dengan celana hijaunya, bolak balik memasukkan air ke dalam pipa sampai bola di dalamnya keluar.



Kelima, ada games tebak gerak. Masing-masing kelompok mewakilkan satu orang untuk bergaya sesuai kalimat yang ditunjukkan kepadanya. Setelah itu, kami diberi permen oleh kak Mia. "Anggap saja bintang. Kelompok yang paling banyak mendapat bintang, merekalah yang menang!" kata kak Mia.


Sesi outbond selesai!

Selesai outbond, kami mandi dan bersiap untuk misa.Yahh, aku lupa siapa nama romo yang memimpin Ekaristi kami. Kami mengikuti ekaristi dengan gembira. Lagu bapa kami anak-anak kami nyanyikan dan kami tutup dengan lagu kebanggaan kami,PIA Kotabaru!

Kami beranjak ke meja makan untuk makan siang bersama romo. Sambil menunggu dijemput bus, Kak Mia mengumumkan para pemenang.
Juara 1 dari tim Hijau

Juara 2 dari tim Biru

Kami, tim Pink, menjadi juara 3

Yang terakhir, tim Kuning
Acara Community Building sudah selesai! 
Semoga kakak-kakak PIA semakin akrab dan siap berkarya melalui adik-adik yang dibimbing dalam nama Tuhan Yesus :)

Community Building- Day 1

Cynthia's Blog

Halo! Komunitas Pendamping Iman Anak Kotabaru 

mengadakan acara community building (commbuilt) untuk kakak-kakak baru yang akan jadi pendamping sekolah minggu dan mempersiapkan Ekaristi Anak. Commbuilt ini diadakan supaya kakak-kakak baru bisa cepat akrab satu sama lain dan dengan kakak kakak pengajar lama pula. Tanggal 8 Februari 2014 kami semua berkumpul di lapangan GKS Widyamandala masuk ke bus dan berangkat bersama sama pukul 16.00 . Setelah sampai di Villa Hanna, Kaliurang kami dapat jam bebas. Boleh mandi atau makan.

Kemudian diawali dengan doa yang dipimpin kak Mia. Setelah itu kami melakukan games bersama untuk mencairkan suasana. Kami melakukan permainan jalan serta Yesus, dimana semua kakak-kakak memegang pundak orang didepannya dan berjalan membentuk lingkarang. Lalu kami menyanyi
dan menari.



Setelah itu acara berlanjut ke sesi penjelasan tentang Pendampingan Iman Anak oleh kak Yuyus Kurniado. Kita diberi pengetahuan tentang kegiatan mengajar sekolah minggu, juga tentang  persiapan Ekaristi Anak, Pakah dan Natal untuk anak-anak. Jadi kegiatan PIA tidak hanya berpusat pada pengajaran di sekolah minggu saja.


Setelah  itu kami di kelompokkan menjadi empat warna: kuning, hijau, pink, dan biru. Kami di beri kotak yang di dalam yang berisi berbagai macam barang. Aku tergabung dalam kelompok pink dan mendapat 3 lembar kertas, spidol warna-warni, bola merah dan biru, dua gelas hijau dan dua gelas biru, manik-manik, dan alkitab. Kami diberi selembar kertas berisi tema mingguan, yang nantinya akan dipakai materi sekolah minggu, dan dengan barang-barang yang tersedia kami harus mampu menampilkan kreativitas dan cerita.

Oya, kami dapat mengambil "barang impian" atau barang tambahan untuk membantu menyampaikan kreativitas atau cerita yang kami buat. Akan tetapi ada syaratnya, yaitu dengan menjawab pertanyaan dari kak Mia, selaku jurinya.


Setelah presentasi dari masing-masing kelompok tentang kreativas yang dibuat, kami berlanjut ke sesi pengenalan anggota inti Pendamping Iman Anak. Kak Mia sebagai Koordinator Umum PIA. Aku, Cynthia, sebagai Wakil Koordinator Umum PIA. Disamping kananku ada Kak Clara dengan baju merah, sebagai bendahara, kemudian Kak Astrid sebagai Koordinator Sekolah Minggu, dan paling ujung ada Kak Tia dengan baju putih, sebagai Humas yang bertugas untuk mengingatkan rapat harian PIA.

 Lalu ada Kak Bram, selaku Koordinator EKA. Dia menjelaskan tentang tugas penanggung jawab EKA bulanan dan mencari siapa yang menjadi calon penanggung jawab tiap bulan. Tugas penanggung jawab EKA sebenarnya tidak sulit, hanya butuh koordinasi dari masing-masing seksi dan totalitas di setiap tugasnya.




Selesai sesi penjelasan tentang penanggung jawab EKA, kami memasuki sesi bebas. Ada yang nonton tv, bakar sosis dan bakso, ada juga yang langsung tidur. Kami tidak sabar bersenang-senang untuk acara besok!







Thursday, 6 February 2014

Menjadi Bijak Menurut Roh Baik

Cynthia's Blog
Rm. Hardiyanto
Suntingan Pribadi

Dalam kehidupan kita, seringkali kita mendengar suara hati yang berbisik melalui telinga kita. Suara itu menuntun kita melakukan suatu perbuatan yang mereka inginkan. Perbuatan buruk yang kita lakukan dapat berasal dari roh jahat. Sedangkan perbuatan baik, bagi diri sendiri dan orang lain dapat kita artikan sebagai bisikan roh baik.

"Hai, perkenalkan! Aku si Jahat. Aku yang menuntun kalian ke lubang dosa yang lebih besar. Ikutlah denganku, akan kuberi kesenengan luar biasa yang menjemukan kalian di dunia ini."
 "Rasanya sesak, sepi, sunyi, dan sakit saat kami di sini! Bahkan kami tidak tahu kenapa. Sebab kami Jahat."
 "Jangan langkahkan kakimu lebih jauh, sudah, tetaplah di sini. Tetaplah di zona nyaman denganku, aku yang Jahat dari dalam lubuk hatimu."

"Halo aku si Baik! Aku tidak munafik jika mengatakan ini. Aku yang akan mengajarkan kalian optimisme dan semangat hidup yang tinggi. Akulah pelita kalian di saat gelap yang menuntun kalian semakin dekat dengan Tuhan kita."

Kadang kala suara itu menyeret kita dalam kegelapan jiwa dan kekacauan batin dalam menghadapi rintangan dan godaan.

Ketika kita dalam keadaan bingung dan kacau, kita tidak boleh mengambil keputusan. Mustahil si Jahat akan memberi kita jawaban. Tetaplah ingat alasan mengapa kalian melakukan perbuatan ini.

Apa yang harus kita lakukan jika terjebak dalam pergulatan suara batin ini? Berdoa! Bicaralah pada Tuhan untuk minta petunjuk, kebijaksanaan, kerendahan hati, ketenangan jiwa, diikuti dengan mati-raga dalam ukuran yang sesuai. Semakin kita dekat dengan Tuhan, semakin kita tahu kehendak Tuhan yang sebenarnya. Yang terbaik bagi kehidupan kita.

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Distributed By Blogger Template