Sunday, 1 December 2013

Simpul Tali di Jembatan Tua

Pernah berjalan diantara jembatan kayu rapuh? Dimana kayu pijakan yang keropos masih berusaha menyatu dan simpul-simpul tali yang saling menggenggam kuat? Lalu kau berjalan di atas jembatan itu. Pelan sekali, supaya jangan ada bunyi berderit sedikit pun. Namun setiap langkah yang kau ciptakan selalu membuat kayu pijakan ini jatuh. Menembus dalamnya jurang lalu lenyap begitu saja. Simpul-simpul talinya pun semakin melonggar. Kau memutuskan untuk berhenti melangkah dan berbalik arah. Akan tetapi semua seakan terlambat. Kayu pijakan untukmu bahkan sudah hilang. Kau salah memilih langkah, kawan. Sekarang kau terjebak diantara simpul tali yang meragu untuk lepas.

***

"Kalau begitu lakukan apa yang kau suka, melihat situasi seperti ini kupikir tidak baik untuk melanjutkan hubungan sepert ini," kata abangku yang paling tua sambil menghisap puntung rokoknya. "Tapi nanti aku tidak ada teman, kupikir dia satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara." balasku. Aku memang tidak cepat punya teman, apalagi teman perempuan. Sindrom 'apakah yang aku bicarakan dengan mereka tepat atau tidak' itulah alasannya.

"Ya kamu bayangkan saja. Sekarang kedua belah pihak belum jelas. Mereka berdua masih tarik ulur dan selalu ada ketakuan dalam diri mereka. Jika mereka bersama, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah akan sama? dan dilain pihak mereka juga masih saling membutuhkan, bahkan dalam perasaan."

Aku hanya terdiam. Menurutku memang ada benarnya.Tidak, tidak ada pihak yang mengaku bahwa keduanya saling membutuhkan. Tapi sebenarnya di dalam hati, pasti mereka saling membutuhkan dan di sinilah aku. Aku yang jadi saksi sekaligus pelaku diantara mereka. Akulah saksi, dimana banyak kata dan dusta terucap melalui makna yang disebut cerita dan akulah pelaku, yang berjalan diantara keretakan kata cinta.

***
"Kriteria itu ngga perlu kok dek, kamu mensyukuri apa yang ada di depan matamu dan yakinlah bahwa itu anugrah yang Tuhan berikan padamu."
 "Bagaimana kakak bisa yakin orang itu dipilih Tuhan untuk kakak?"
Lalu kakak itu menunjuk hatinya dan berkata, "Dari sinilah suara akan berbisik."
Aku terdiam mendengarnya. 
***
" Kriteria itu perlu kok. Bukan maksud tidak mensyukuri ketika kita bertemu orang lain. Tapi realita sajalah, kita tidak hanya hidup dengan cnta. Katakanlah kamu patok 3 kriteria. Jika 2 sudah terpenuhi, kamu boleh yakin kalau dia pasti bisa bersama disampingmu. Tapi kalau tidak masuk 3 kriteria itu, untuk apa dipaksakan?"
Aku hanya manggut-manggut mendengar teman perempuanku. Sudut pandang yang berbeda ini semakin membuatku bingung. Sebenarnya mana yang benar? Tapi kurasa aku lebih cenderung ke pendapat teman perempuanku. Entahlah, mungkin penyesalan mendapatkan orang yang bersama kita adalah bukan kriteria kita, itu sangat pahit. Sungguh, aku tidak mengarang, cobalah saja sendiri.
***
Lalu kau memutuskan untuk berhenti melangkah, berbalik arah, lalu melompat melewati lubang jembatan yang lebar. Kau tidak peduli lagi dengan jembatan rapuh itu. Kau ingin menutup mata dan telinga, lalu jatuh memeluk angin. Seperti kayu keropos tadi. 

Akan tetapi kau tidak jadi jatuh. Kepalamu menggantung ke bawah dan kakimu melayang ke atas. Terlilit sebuah tali usang jembatan itu. Hanya satu tali, sedangkan tali yang lain menghilang. Kupikir tali yang lain itu sudah tahu kemana ia harus melilitkan badannya kembali dan membuat simpul yang indah. Tapi tali ini berbeda. Tali ini seakan sangat dekat denganmu. Sangat dekat. Kau ingin sekali meraih tali ini, lalu beranjak ke permukaan bersama-sama. Namun, kau belum yakin, apakah benar tali ini akan membawamu ke permukaan? Apakah kau bisa mengantungkan seluruh badanmu pada tali ini?

Lalu kesimpulan yang kau pilih adalah tali ini bukan tali yang membawa ke permukaan. Bukan permukaan tanah yang kau dan tali ini inginkan. Tapi permukaan yang kau inginkan. Hanya kau. Kau merasa tali ini bukanlah tali yang tepat. Maka kau hanya berbisik, " Kenapa kau melilit kakiku? Harusnya kau tidak melakukannya. Karena aku yakin jika kau tidak melilitkan talimu ini, kedekatan kita tidak akan pernah terjadi."
Kemudian terhempaslah badanmu ke tanah. Tali itu tidak akan mengikatmu lagi. Oleh karena simpulnya terlalu rapuh untuk merasuki kalimatmu barusan.
***
Jika cinta terucap, maka pertemanan kita takkan menjadi biasa. Jika kau melilitku dengan talimu, maka...

aku tidak bisa mengatakannya

No comments:

Post a Comment