Monday, 8 September 2014

Kepada Bintang yang Kebingungan

“Kamu jahat. Kamu memberiku harapan yang aku tidak tahu harus bagaimana dan bahkan kamu sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
“Maaf. Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya. Bahkan kau bisa menganggapku tidak pernah mengatakannya.”
“Tidak bisa. ”
“Mengapa begitu?”
“Aku terlanjur memiliki perasaan ini.”
***
Langit
Setiap hariku berlalu biasa saja. Kau selalu di sampingku, dari awal. Mungkin karena itulah, aku tidak pernah menyadarinya. Ketika Matahariku pergi, aku sadar duniaku mulai redup. Namun, di sudut kecil, kau bersinar dalam gelap.
Cahayamu memang tidak sebesar matahariku. Kau kecil, dengan pendaran cahaya putih yang mempesona. Kau menemani redupnya hariku. Kupikir kita bisa menjadi sahabat yang baik, sungguh, aku menyukai setiap sinar tawa yang kau pancarkan dalam hidupku. Kau ada di sampingku, berbagi cerita dan tawa bersama.
Kemudian rasa ini membuncah. Kadang aku tak melihatmu sebagai temanku menjalani hari yang redup ini. Sungguh pun, kau terlihat secerah matahariku yang dulu. Kilau cahaya kecilmu seakan menemaniku di saat aku membutuhkan yang lain. Kau menghapus ingatanku begitu mudah. Hangatnya bermandikan cahaya matahari dengan selimut cahaya redup yang kau tawarkan.
Aku memang sendiri dalam dunia biru ini. Akan tetapi,kau hadir dalam pendar cahayamu untukku. Aku tidak bisa menolak pikiran ini bahwa aku: membutuhkanmu.
***
Bintang
Aku kecil dan bercahaya. Aku bersinar setiap hari. Aku bernaung dalam birumu sekian lama, namun kau baru melihatku ketika dunia ini meredup. Aku yang menyinarimu dalam gelap, dengan cahaya kecil yang kuperjuangkan terus berpendar. Hanya untukmu.
Aku tidak pernah menganggapmu lebih dari tempatku bernaung. Aku makhluk yang tahu diri. Kau dan matahari sangat dekat, tak terpisahkan. Apalah aku ini di samping hangatnya mentarimu. Kemudian kau kehilangan mataharimu sesaat. Kuputuskan untuk menjadi satu-satunya pelita dalam gelapmu. Aku yang menerangi hidupmu saat ini. Cahayaku memang tak seberapa, tapi aku selalu menemanimu dalam tawa dan canda.
Tetapi kemudian kau membuatku terkejut. Kau meruntuhkan dinding tembus pandang yang kubangun untukmu. Untuk membatasi siapa kau dan aku sebenarnya.
Sejak awal aku merasa bersyukur bahwa kau tidak melihat dan menyadari keberadaanku. Kau memiliki matahari yang sempurna, memandikanmu dalam hangatnya cahaya dan membuat rona warnamu selalu cerah. Hubungan kita tidak lebih dari sebuah bintang kecil di langit yang biru. Namun kau seperti mempermainkanku. Kau membuatku lupa siapa aku dan membuatku memiliki perasaan ini untukmu. Aku menyadarinya sekarang bahwa aku: tidak ingin kehilanganmu dalam hidupku.
***
“Kalau begitu silakan memilih. Aku atau mataharimu.”
“Kau yakin ingin mendengar pilihanku sekarang?”
“Aku tidak akan pernah siap mendengarnya. Aku tidak siap kehilanganmu dari hidupku. Jadi, sekarang atau besok, tak ada bedanya.”
Hening yang panjang.
“Maafkan aku.”
Hanya itu yang terdengar dalam birunya malam ini. Lalu langit kembali melihat bintangnya dan berkata,
“Tetapi apakah aku masih bisa bertemu denganmu?”
Hening kembali.
“Tidak bisa.”
“Mengapa begitu?”
“Aku tidak mau.”
***
Malam itu hujan. Ya, hujan yang sangat deras. Gelap. Langit menghitam dan tidak ada cahaya sama sekali. Cahaya putih nan kecil itu menghilang. Apalah guna biru langit tanpa ada cahaya di sampingnya.
***
Langit
Aku masih bersama mentari yang hangat. Matahariku memang sempurna, dalam kilau cahaya yang tak pernah padam dan merangkulku dalam kehangatan. Akan tetapi, matahari memang matahari. Begitu pula bintangku.Oh seharusnya aku tidak menyebutnya “bintangku”.

Bintang memang bintang. Dalam cahaya kecilnya yang dulu menerangiku, dia meninggalkan suatu kerinduan yang dalam padaku setiap malam. Aku rindu gurau, canda, tawa, cerca, makian, dan pandangan matanya. Aku hanya bisa mengenang suaranya dalam gelapnya rona awanku.

"Kamu maunya apa sih? :) "



No comments:

Post a Comment